Suhu
adalah salah satu faktor lingkungan yang penting dan yang paling mudah untuk
diteliti dan ditentukan. Fluktuasi air laut banyak ditentukan dan
dipengaruhi oleh iklim, suhu udara, kekuatan arus, kecepatan angin, lintang,
maupun keadaan relief dasar laut. Ikan akan sangat peka terhadap perubahan suhu
walaupun hanya sebesar 0,030C.
Fluktuasi suhu dan perubahan geografis ternyata bertindak sebagai faktor
penting yang merangsang dan memnentukan pengkonsentrasian serta pengelompokan
ikan. Jika
suhu pada tempat tersebut lebih tinggi dri standar yang berlaku, atau malah
melebihi suhu optimum untuk dilakukan penangkapan, dalam hal demikian ada
baiknya untuk mencari daerah penangkapan dengan suhu yang sesuai. Hal ini
dapat dilihat pada ruaya kelompok cakalang yang banyak bergantung kepada kuat
atau tidaknya arus panas. Dengan demikian tinggi atau rendahnya suhu
merupakan faktor penting dalam penentuan migrasi jenis ikan tersebut.
Cahaya dengan segala aspeknya seperti intensitas,
sudut penyebarannya, polarisasi, komposisi spektral, arah, panjang gelombang
serta lama penyinaran harian maupun musiman, kesemuanya akan mempengaruhi baik
secara langsung maupun tidak langsung terhadap tingkah laku dan fisiologi ikan.
Ada jenis ikan yang bersifat phototaxis positif, yaitu bahwa ikan akan bergerak
ke arah sumber cahaya karena rasa tertariknya, sebaliknya beberapa jenis ikan
mungkin sekali akan bersifat phototaxis negatif, yang memberikan respon dan
tindakan yang sebaliknya dengan yang bersifat phototaxis positif tadi.
Beberapa akibat arus pada sifat atau tingkah laku ikan
adalah sebagai berikut :
- Arus membawa telur-telur ikan secara bebas dari spawning ground ke nursery ground dan dari nursery ground ke feeding ground. Setiap gejala di luar kebiaaan ini akan berakibat survival dari pada keturunan di tahun tersebut.
- Perpindahan ikan dewasa dipengaruhi oleh arus yang bertindak sebagai alat untuk orientasi.
- Tingkah laku diurnal mungkin disebabkan oleh arus terutama disebabkan oleh arus pasang/arus tidal.
- Arus, terutama pada pembatasnya mungkin memberikan akibat pada distribusi ikan dewasa, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui pengumpulan makanan ikan atau merubah batas-batas lingkungan, misalnya batas-batas temperatur.
- Arus mungkin berakibat pada kekayaan lingkungan, karena itu secara tidak langsung menentukan berkembang biaknya spesies-spesies tertentu dan bahkan membatasi distribusi geografiknya.
Pada
beberapa penelitian di laboratorium ditemukan bahwa tidak ada reaksi ikan
terhadap percepatan dan arah arus. Penelitian lainnya menemukan bahwa
peningkatan arus dan tingkat turbulensinya berakibat pada peningkatan aktifitas
ikan trout, sedangkan pada air yang tenang mengakibatkan pengembaraan yang
tidak teratur. Pada air yang sangat dingin, ikan membiarkan dirinya
terbawa oleh arus. Ikan pelagis pada saat melakukan aktifitas makan membiarkan
dirinya hanyut dalam arus, kemudian orientasi ikan ini dalam kelompoknya dan
gerakan-gerakan kelompok itu dapat diatur oleh arus.
Perubahan salinitas pada perairan bebas relatif kecil
saja bila dibandingkan dengan yang terjadi di daerah pantai. Sebagaimana
diketahui perairan pantai banyak dimasuki air tawar darimuara-muara sungai,
terutama pada waktu banyak turun hujan. Salinitas erat hubungannya dengan
adanya penyesuaian tekanan osmotik antar sitoplasma dari sel-sel dalam tubuh
ikan dengan keadaan salinitas di sekelilingnya. Selain erat hubungannya dengan
penyesuaian tekanan osmotik tersebut, maka salinitas juga menentukan daya apung
dari telur-telur yang pelagis sifatnya. Selain itu perubahan salinitas sering
menunjukkan perubahan massa air dan keadaan stabilitasnya.
Kelarutan
oksigen di laut sangat penting artinya dalam mempengaruhi kesetimbangan kimia
di air laut dan juga dalam kehidupan organisme di laut. Pada keadaan
normal di laut, dimana jumlah oksigen yang larut dalam air tidak menjadi suatu
faktor yang membatasi distribusi ikan. Tetapi pada beberapa keadaan, oksigen
mungkin akan mempengaruhi tingkah laku daripada ikan
EKOSISTEM LENTIK
Ekosistem lentik adalah perairan mengalir yang mempunyai corak tertentu yang secara jelas membedakannya dari air menggenang walaupun keduanya merupakan habitat
air tawar. Semua perbedaan itu tentu saja mempengaruhi bentuk serta kehidupan tumbuhan dan hewan yang menghuninya. Satu perbedaan
mendasar antara danau dan sungaiadalah bahwa danau terbentuk karena cekungannya
sudah ada dan air yangmengisi cekungan itu, tetapi danau setiap saat dapat
terisi oleh endapan sehingga menjadi tanah kering.
Macam Ekosistem Lentik adalah :
1.
Berupa
sungai, bengawan, selokan atau air megalir lainnya.
2.
Air
yang ada selalu bergerak dan hanya numpang lewat saja.
3.
Pengikatan
energi berasal dari daerah aliran sungai (DAS, lingkungan sekitar sungai) dan
bantaran sungai, bukan dari dalam airnya. Watersheed juga dipengaruhi oleh naungan atau kanopi
sekitar.
4.
Organisme
berada didalam substrat atau berada didalam air sungai.
Ekosistem sungai [lotik] memiliki empat dimensi
:
1.
Dimensi
lateral, meliputi tengah-bantaran-pinggir
2.
Dimensi
vertical, meliputi luas kolam air.
3.
Dimensi
Temporal, meliputi evolusi sungai
4.
Dimensi
Longitudinal, meliputi tipe organisme dan vegetasai sepanjang sungai dari hulu
sampai hilir.
Faktor abiotik :
a) Arus
b) Cahaya [sumber energi]
c) Suhu [tidak stabil]
d) Kimia [BOD, COD, P, Nitrat, dll]
e) substrat
Faktor Biotik:
a) Bacteria/Mikroorganisme
b) Produsen [fitoplankton dan algae]
c) Insecta/Invertebrate [Organisme pencacah,
biasanya berupa larva]
d) Ikan [Vertebrata]
EKOSISTEM LOTIK
Ekosistem yang airnya bergerak mengalir,
misalnya selokan, parit, atau sungai. Ciri-ciri ekosistem lotik adalah airnya
mengalir, merupakan ekosistem terbuka dari kadar oksigen terlarut relatif
tinggi. Aliran air dalam ekosistem lotik merupakan faktor pembatas bagi organisme yang ada di dalamnya. Artinya
organisme yang tidak dapat melakukan adaptasi terhadap adanya aliran air akan
tersingkir. Aliran ini juga dapat menjadi penentu jenis dan komposisi komponen
biotik dalam ekosistem. Aliran air tergantung pada topografi, besarnya sungai
dan debit air yang mengalir. Misalnya, jenis organisme di pinggir sungai
berbeda dengan jenis organisme di dalam atau di dasar sungai. Air ekosistem
lotik tidak tetap, melainkan berubah tergantung pada musim. Di pulau Jawa, pada
umumnya air sungai keruh dan banjir di musim hujan sedangkan di musim kemarau
airnya kecil dan bahkan mengering. Keadaan ini merupakan suatu indikator adanya
kerusakan ekosistem darat didaerah hulu sungai.
Sebagai suatu Ekosistem terbuka. Ekosistem
lotik memperoleh kiriman bahan organik yang terbawa aliran air dari daerah hulu
atau daratan misalnya, berupa bangkai, sampah atau daun-daun yang gugur ke
sungai. Meskipun dari ekosistem lotik itu sendiri hewan-hewan dapat memperoleh
makanan, beberapa hewan sungai ada yang memakan bahan organik yang terbawa
aliran air. Jadi, ekosistem lotik mendapat pengaruh yang besar dari ekosistem
daratan. Sebagai ekosistem yang mobil, aliran air memudahkan terjadinya persentuhan
antara permukaan air yang luas dengan
udara. Apalagi, jika disepanjang ekosistem lotik terdapat jeram, riak-riak
kecil, dan air terjun. Keadaan yang demikian menyebabkan kadar oksigen terlarut
relatif tinggi. Tingginya kadar oksigen memberikan kondisi pada hewan-hewan
sungai untuk hidup dilingkungan yang cukup oksigen, sehingga mereka menjadi
peka terhadap kekurangan oksigen. Adanya bahan pencemar yang dapat mereduksi
(mengurangi) oksigen terlarut dapat menimbulkan bencana bagi hewan air itu.
ESTUARI
Estuari adalah badan
air setengah tertutup di wilayah pesisir,
dengan satu sungai atau lebih yang mengalir masuk ke dalamnya,
serta terhubung bebas dengan laut terbuka. Kebanyakan muara sungai ke laut membentuk estuari namun
tidak demikian jika bermuara ke danau, waduk,
atau ke sungai yang lebih besar. Estuari merupakan suatu peralihan (zona
transisi) antara lingkungan sungai dengan lingkungan laut, dan dengan demikian,
dipengaruhi baik oleh karakter sungai yang membentuknya (misalnya banyaknya air tawar dan sedimentasi yang dibawanya), maupun
oleh karakter lautan di sisi yang lain (misalnya pasang surut, pola gelombang, kadar garam,
serta arus laut). Masuknya baik
air tawar maupun air laut ke estuari merupakan faktor yang meningkatkan
kesuburan perairan, dan menjadikan estuari sebagai salah satu habitat alami yang paling produktif di
dunia. Bentukan estuary itu sendiri dapat terjadi dalam dua pola
bentukan. Bentukan yang pertama adalah bentukan asli yang merupakan
bentukan dari pola topografi yang secara alami terjadi pertemuan antara air
laut dan air tawar. Bentukan yang kedua adalah bentukan dengan model sirkulasi
air laut dan air sungai. Bentukan ini sangat di berkaitan dengan pola pasang
surut, arus air sungai dan arus pantai, topografi dan kedalaman dari perairan
itu sendiri.
Dari pola percampuran air laut, kita
dapat mengenal secara umum 3 model estuary yang terbentuk, dengan catatan ini
pun sangat di pengaruhi oleh sirkulasi air, topografi , kedalaman dan pola
pasang surut karena dorongan dan volume air akan sangat berbeda khususnya yang
bersumber dari air sungai.
Pola percampuran yang pertama adalah
pola dengan dominasi air laut (Salt wedge estuary). Pola ini di tandai
dengan desakan dari air laut pada lapisan bawah permukaan air saat terjadi
pertemuan antara air sungai dan air laut. Kita akan mudah membedakan
salinitas air dari estuary ini yang sangat berbeda antara lapisan atas air
dengan salinitas yang lebih rendah di banding lapisan bawah yang lebih
tinggi.
Pola kedua adalah Pola percampuran merata antara air laut
dan air sungai (well mixed estuary). Pola ini di tandai dengan bercampur secara
merata antara air laut dan air tawar hingga tidak terbentuk stratifikasi secara
vertikal, namun stratifikasinya dapat secara horizontal yang derajad salinitynya
akan meningkat pada daerah dekat laut
Pola yang ketiga adalah
percampuran antara pola dominasi air laut dan pola percampuran merata atau
dikenal dengan pola pola percampuran tidak merata (Partially mixed estuary).
Pola ini akan sangat labil atau sangat tergantung desakan air sungai dan air laut.
RELIEF DASAR LAUT
Relief dasar laut adalah perbedaan
tinggi dan rendah permukaan laut. Relief dasar laut merupakan bentuk kekasaran
permukaan bumi, baik berupa tonjolan atau cekungan yang terdapat di wilayah
dasar laut. Relief dasar laut dibagi menjadi empat bagian utama, yaitu:
1.
Landasan Kontinen ( continental shelf )
Landasan Kontinen (continental shelf)
adalah wilayah
laut yang dangkal di sepanjang pantai dengan kedalaman kurang dari 200 meter,
dengan kemiringan kira-kira 8,4% atau sekitar 0o7’ atau 2m/km. Landasan
kontinen merupakan dasar laut dangkal di sepanjang pantai dan menjadi bagian
dari daratan. Contohnya Landas Kontinental Benua Eropa Barat sepanjang 250 km
kearah barat. Dangkalan sahul yang merupakan bagian dari benua Australia dan
Pulau Irian, Landas kontinen dari Siberia kea rah laut Arktik sejauh 100 km,
dan Dangkalan Sunda yang merupakan bagian dari Benua Asia yang terletak antara
Pulau Kalimantan, Jawa, dan Sumatera.
2.
Lereng benua ( continental slope )
Lereng benua (continental slope)
merupakan kelanjutan
dari continental shelf dengan kemiringan antara 4% sampai 6%. Kedalaman lereng
benua lebih dari 200 meter. Daerah ini meluas dari patahan beting sampai pada
kedalaman ratarata 2 km. Daerahnya curam dengan kemiringan rata-rata 40o17’
atau 1:2 sampai 1:40, dan mencakup luas 13% dari luas permukaan bumi.
3.
Tanjakan Kontinental
Daerah ini adalah transisi antara benua
dengan samudra, mempunyai kemiringan 1:50 sampai 1:800 dengan rata-rata 1:150.
Tanjakan continental merupakan tempat pengumpulan sedimen yang berasal dari
benua.
4.
Dasar Samudra ( ocean floor )
Deep Sea Plain, yaitu dataran dasar
laut dalam dengan kedalaman lebih dari 1000 meter. The Deep, yaitu dasar laut
yang terdalam yang berbentuk palung laut (trog)
TERUMBU
KARANG (CORAL REEF)
Terumbu karang adalah ekosistem bawah laut yang
terdiri dari sekelompok binatang karang yang membentuk struktur kalisum
karbonat, semacam batu kapur. Terumbu karang merupakan ekosistem di dasar laut
tropis yang dibangun terutama oleh biota laut penghasil kapur (CaCO3) khususnya jenisjenis
karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar
lainnya seperti jenis-jenis moluska, Krustasea, Echinodermata, Polikhaeta, Porifera,
dan Tunikata serta biota-biota lain yang hidup bebas di perairan sekitarnya,
termasuk jenis-jenis Plankton dan jenis-jenis nekton. Ekosistem ini menjadi
habitat hidup berbagai satwa laut.
Terumbu karang bersama-sama hutan mangrove merupakan ekosistem penting yang
menjadi gudang keanekaragaman hayati di laut. Dari sisi keanekaragaman hayati,
terumbu karang disebut-sebut sebagai hutan tropis di lautan. Terumbu karang
pada umumnya hidup di pinggir pantai atau daerah yang masih terkena cahaya
matahari kurang lebih 50 m dibawah permukaan laut. Terumbu karang merupakan
salah satu komponen utama sumber daya pesisir dan laut, disamping hutan bakau
atau hutan mangrove dan
padang lamun. Terumbu karang mengandung berbagai manfaat yang sangat besar dan beragam, baik secara ekologi maupun ekonomi.
padang lamun. Terumbu karang mengandung berbagai manfaat yang sangat besar dan beragam, baik secara ekologi maupun ekonomi.
Manfaat dari terumbu karang yang langsung dapat
dimanfaatkan oleh manusia adalah:
·sebagai tempat hidup
ikan yang banyak dibutuhkan manusia dalam bidang pangan, seperti ikan kerapu,
ikan baronang, ikan ekor kuning), batu karang,
·pariwisata, wisata
bahari melihat keindahan bentuk dan warnanya.
·penelitian dan
pemanfaatan biota perairan lainnya yang terkandung di dalamnya.
Sedangkan yang termasuk dalam pemanfaatan tidak langsung adalah sebagai
penahan abrasi pantai yang disebabkan gelombang dan ombak laut, serta sebagai
sumber keanekaragan
IKAN DEMERSAL
Ikan
demersal adalah
ikan yang hidup dan makan di dasar laut dan danau (zona demersal). Lingkungan
mereka pada umumnya berupa lumpur, pasir, dan bebatuan, jarang sekali terdapat
terumbu karang. Sehingga berdasarkan definisi ini, ikan demersal dapat ditemukan
dari lingkungan pantai hingga zona laut dalam (abyssal zone), dan terbanyak ditemukan di lingkungan dekat
punggung laut.
Ikan demersal berlawanan dengan ikan pelagis
yang hidup dekat dengan permukaan air. Ikan demersal mengandung sedikit minyak
(satu sampai empat persen massa tubuhnya), jika dibandingkan dengan ikan
pelagis yang dapat mencapai 30 persen. Sehingga ikan demersal termasuk ikan
daging putih ikan demersal dapat dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu
1. Ikan Benthic, yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di dasar laut. Berdasarkan bentuk tubuh dan cara predasinya, ikan benthic dibagi menjadi beberapa jenis:
1. Ikan Benthic, yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di dasar laut. Berdasarkan bentuk tubuh dan cara predasinya, ikan benthic dibagi menjadi beberapa jenis:
·Penyapu
dasar laut : contoh
·Penjejak
dasar laut
·Ikan bersembunyi
·Ikan
pipih
·Ikan ekor
tikus
2. Ikan Benthopelagic yang dapat berenang naik namun tetap berada
dekat dengan dasar laut. Ikan ini memakan makhluk penghuni dasar laut (benthos)
juga plankton
IKAN PELAGIS
I
kan Pelagis adalah ikan yang hidupnya di
permukaan air hingga kolom air antara 0-200 meter. Ikan pelagis memiliki
kebiasaan hidup membentuk gerombolan (schooling) dalam melangsungkan
hidupnya, baik itu bermigrasi (ruaya), mencari makan, bahkan memijah.
Berdasarkan jenis dan ukurannya ikan pelagis dibedakan menjadi 2, yaitu ikan
pelagis besar dan ikan pelagis kecil.
Contoh ikan pelagis besar :
Contoh ikan pelagis besar :
- ·Tuna Mata Besar (Thunnus Obesus)
- ·Tuna Sirip Panjang (Thunnus Alalunga)
- ·Tuna Sirip Hitam (Thunnus Atlanticus)
- ·Selar (Selaroides Leptolepis)
- ·Teri (Stolephorus Commersoni)
- ·Lemuru (Sardinela Longiceps)
Habitat Ikan Pelagis
· Ikan pelagis besar dapat kita jumpai
dekat terumbu karang atau tubiran dimana arus hangat dekat perairan pantai.
Ikan pelagis juga dapat kita jumpai di laut terbuka dengan suhu yang berubah
ubah, bahkan ada juga beberapa ikan pelagis besar yang hidup di terumbu yang
dalam.
· Ikan pelagis kecil
dapat kita jumpai pada tubiran karang, namun ikan ini umumnya selalu berpindah tempat.
ZONA OSEANIK
Pembagian Zona Laut
Berdasarkan Kedalaman
Ekosistem laut
juga berperan penting bagi lingkungan di daratan. 50% oksigen yang dihisap
organisme di daratan berasal dari fitoplankton di lautan. Habitat pantai (estuari,
hutan bakau, dan sebagainya) merupakan kawasan paling produktif di bumi.
Ekosistem terumbu karang menyediakan sumber makanan dan tempat berlindung bagi
berbagai jenis organisme dengan keanekaragaman hayati tingkat tinggi di lautan.
Ekosistem lautan pada umumnya memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang
tinggi sehingga diperkirakan memiliki ketahanan yang baik terhadap spesies
invasif. Namun beberapa kasus yang melibatkan spesies invasif telah ditemukan
dan mekanisme yang menentukan kesuksesan spesies invasif ini belum dipahami
secara pasti.
Zona oseanik merupakan wilayah
ekosistem laut lepas yang kedalamannya tidak dapat ditembus cahaya Matahari
sampai ke dasar, sehingga bagian dasarnya paling gelap. Akibatnya bagian air
dipermukaan tidak dapat bercampur dengan air dibawahnya, karena ada perbedaan
suhu. Batas dari kedua lapisan air itu disebut daerah Termoklin, daerah ini
banyak ikannya. Habitat laut (oseanik) ditandai oleh salinitas (kadar garam)
yang tinggi dengan ion CI- mencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena
suhunya tinggi dan penguapan besar. Di daerah tropik, suhu laut sekitar 25°C.
Perbedaan suhu bagian atas dan bawah tinggi. Batas antara lapisan air yang
panas di bagian atas dengan air yang dingin di bagian bawah disebut daerah termoklin.
Di daerah dingin, suhu air laut merata sehingga air dapat bercampur, maka
daerah permukaan laut tetap subur dan banyak plankton serta ikan. Gerakan air
dari pantai ke tengah menyebabkan air bagian atas turun ke bawah dan
sebaliknya, sehingga memungkinkan terbentuknya rantai makanan yang berlangsung
baik.
Komentar
Posting Komentar